Atap Roboh, Dinding Retak, Wali Murid SDN Penggaron Kidul Minta Renovasi

Atap Roboh, Dinding Retak, Wali Murid SDN Penggaron Kidul Minta Renovasi
SDN Penggaron Kidul dalam kondisi retak dan mengkhawatirkan, sumber foto; (Agus Romadhon).

ORBITRAYA.COM, Semarang – Semangat menyambut tahun ajaran baru seharusnya menjadi momen yang penuh keceriaan bagi para siswa. Namun suasana Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN Penggaron Kidul, Jalan Kyai Morang XI, Kelurahan Penggaron Kidul, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jumat (17/7/2026), justru diwarnai rasa cemas dari para wali murid.

Kekhawatiran itu muncul setelah tim penggerak wali murid kelas 5 meninjau langsung kondisi bangunan sekolah. Di sejumlah ruang kelas terlihat retakan memanjang pada dinding, sementara beberapa bagian plafon eternit telah runtuh dan ada yang masih bergelantungan sehingga dinilai membahayakan keselamatan siswa.

"Jujur kami takut. Setiap lihat retakan di tembok dan eternit yang jatuh, hati ini rasanya nggak tenang," ujar Hafizah, salah satu tim penggerak kelas 5.

Menurut Hafizah, kondisi tersebut membuat para orang tua tidak lagi merasa tenang saat anak-anak mengikuti kegiatan belajar mengajar setiap hari.

"Kami mohon dengan sangat kepada Dinas terkait. Tolong segera direnovasi. Anak-anak kami belajar di sini setiap hari. Keselamatan mereka taruhannya."

Selain kondisi bangunan yang memprihatinkan, para wali murid juga menyoroti belum adanya pagar yang mengelilingi sekolah. Mengingat lokasi SDN Penggaron Kidul berada di kawasan persawahan, mereka menilai pagar menjadi kebutuhan penting demi keamanan siswa maupun aset sekolah.

"Kami juga berharap ada pagar sekolah. Bukan apa-apa, ini demi keamanan anak-anak dan aset sekolah. Jangan sampai ada kejadian yang tidak kita inginkan," tambah Hafizah.

Sementara itu, Kepala SDN Penggaron Kidul, Hariani S.Pd, membenarkan kondisi bangunan sekolah yang mengalami kerusakan. Menurutnya, pada hari yang sama sekolah sedang melaksanakan kegiatan MPLS dengan menghadirkan Bhabinkamtibmas Kelurahan Penggaron Kidul.

"Tujuannya mengenalkan anak pada lingkungan baru yang ramah. Kami ingin sekolah ini bebas bullying, bebas pertengkaran, tempat anak merasa aman," kata Hariani.

Meski demikian, pihak sekolah tidak menampik bahwa kondisi fisik gedung memang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.

"Memang benar, gedungnya banyak yang retak. Atapnya pun sudah ada yang roboh. Banyak orang tua yang curhat ke kami."

Hariani menjelaskan, pihak sekolah telah berulang kali mengajukan proposal renovasi kepada Dinas Pendidikan. Namun hingga kini, bantuan yang telah terealisasi baru berupa pembangunan pagar untuk mengantisipasi pencurian.

"Alhamdulillah tahun ini kami dapat kuota 27 siswa kelas 1, termasuk 1 siswa inklusif. Artinya anak-anak dengan kebutuhan khusus juga berhak dapat pendidikan layak di sini. Karena itu kami ingin gedungnya juga layak," lanjutnya.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Mufttahidah, salah seorang wali murid. Ia mengaku rasa was-was selalu muncul setiap kali mengantar dan menjemput anaknya di sekolah.

"Lihat retakan di mana-mana, eternit jatuh, kami sebagai ibu-ibu yang ngantar anak jadi was-was. Mohon kepada Dinas Pendidikan dan Pemerintah Kota Semarang, tolong bantu renovasi dan buatkan pagar. Biar SDN Penggaron Kidul bisa lebih maju dan anak-anak belajar dengan tenang," ucapnya lirih.**

#Pendidikan

Index

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index