ORBITRAYA.COM, Boyolali — Malam itu, Aula Front One The Andia Boyolali dipenuhi suasana panas. Bukan karena pendingin ruangan mati, melainkan karena ruang tersebut dipenuhi suara, keresahan, sekaligus cinta terhadap organisasi.
Musyawarah Nasional Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI) yang digelar di Jalan Merdeka Timur, Wonosari Kemiri, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (21/5/2026), sempat berlangsung ricuh.
Munas yang awalnya diharapkan berjalan khidmat mendadak memanas ketika proses pemilihan Ketua Umum memasuki tahap krusial. Dari dua nama yang sebelumnya muncul sebagai calon, hanya satu kandidat yang hadir.
Sementara itu, sebagian persyaratan administrasi dinilai belum sepenuhnya lengkap.
“Ini tidak demokratis!” teriak sebagian peserta. Namun suara lain menjawab, “Tapi ini situasi darurat. Jangan biarkan SWI kosong tanpa nakhoda.”
Di tengah dinamika tersebut, Agus Romadhon, perwakilan Jawa Tengah dari Semarang, mengaku merasakan sesak di dada. Di satu sisi, aturan organisasi harus dijunjung tinggi.
Namun di sisi lain, ia melihat semangat para delegasi dari berbagai daerah seperti Aceh, Sumatra, Lampung, Banyuwangi, Sulawesi, Tangerang, Jakarta, Palembang, Palu, hingga berbagai kota dan kabupaten lainnya yang rela menempuh perjalanan jauh demi memastikan SWI tetap berdiri kokoh.
Perdebatan pun tak terhindarkan. Suara saling bersahutan, argumen beradu tajam layaknya suasana kampanye politik. Namun di balik itu semua, tidak ada kebencian. Yang ada hanyalah kegelisahan yang sama tentang masa depan rumah besar bernama SWI.
Akhirnya, forum memilih jalan tengah melalui mekanisme voting dengan pilihan kandidat melawan kertas kosong. Sebuah bentuk demokrasi yang sederhana namun jujur.
Ketika hasil penghitungan suara dibacakan, suasana aula mendadak hening.
- H. Iskandar : 49 suara
- Abstain : 4 suara
- Nama di luar konteks : 3 suara
Dengan hasil tersebut, H. Iskandar resmi terpilih sebagai Ketua Umum Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI).
Agus mengaku menutup mata sejenak. Bukan karena kecewa, tetapi karena lega. Menurutnya, di tengah riuhnya perdebatan, akal sehat akhirnya menang dan persatuan tetap terjaga.
Momen haru pun terjadi setelah sidang selesai. Para peserta yang sebelumnya bersitegang mulai saling mendekat dan berjabat tangan. Tidak ada dendam, tidak ada rasa kalah atau menang. Yang tersisa hanyalah kedewasaan dalam berdemokrasi.
“Pak Iskandar, kami titip SWI ya,” ujar Agus sambil menggenggam tangan Ketua Umum terpilih.
“Siap, Mas Agus. Ini bukan kerja satu orang. Ini kerja kita semua,” jawab H. Iskandar.
Di luar gedung, malam Boyolali tetap berjalan tenang. Sejumlah anak muda tampak menikmati kopi di angkringan dengan cahaya lampu yang redup. Namun di dalam aula, hati para peserta terasa terang. Riuh berubah menjadi rukun, debat berubah menjadi damai.
Mereka sadar, musuh sesungguhnya bukan sesama wartawan, melainkan kebodohan, ketidakadilan, dan matinya keberanian menyuarakan kebenaran.
Malam itu, Jawa Tengah dan seluruh delegasi dari berbagai daerah pulang dengan satu rasa: gembira. Bukan semata karena kemenangan, tetapi karena SWI berhasil menjaga persatuan.
“Di panggung demokrasi, suara boleh berbeda. Tapi salam persaudaraan tak boleh pudar.”